Minggu, 03 April 2011

Istri-Istri Rasulullah SAW

1.      Khodijah binti Khuwailid RA
Ia dinikahi oleh Rasulullah SAW di Mekkah ketika usia beliau 25 tahun dan Khodijah 40 tahun. Dari pernikahnnya dengan Khodijah Rasulullah SAW memiliki sejumlah anak laki-laki dan perempuan. Akan tetapi semua anak laki-laki beliau meninggal. Sedangkan yang anak-anak perempuan beliau adalah: Zainab, Ruqoyyah, Ummu Kultsum dan Fatimah. Rasulullah SAW tidak menikah dengan wanita lain selama Khodijah masih hidup.

2.      Saudah binti Zam’ah RA
Dinikahi oleh Rasulullah SAW pada bulan Syawwal tahun kesepuluh dari kenabian beberapa hari setelah wafatnya Khodijah. Ia adalah seorang janda yang ditinggal mati oleh suaminya yang bernama As-Sakron bin Amr.

3.      Aisyah binti Abu Bakar RA
Dinikahi oleh Rasulullah SAW bulan Syawal tahun kesebelas dari kenabian, setahun setelah beliau menikahi Saudah atau dua tahun dan lima bulan sebelum Hijrah. Ia dinikahi ketika berusia 6 tahun dan tinggal serumah di bulan Syawwal 6 bulan setelah hijrah pada saat usia beliau 9 tahun. Ia adalah seorang gadis dan Rasulullah SAW tidak pernah menikahi seorang gadis selain Aisyah.
Dengan menikahi Aisyah, maka hubungan beliau dengan Abu Bakar menjadi sangat kuat dan mereka memiliki ikatan emosional yang khusus. Posisi Abu Bakar sendiri sangat penting dalam dakwah Rasulullah SAW baik selama beliau masih hidup dan setelah wafat. Abu Bakar adalah khalifah Rasulullah yang pertama yang di bawahnya semua bentuk perpecahan menjadi sirna.
Selain itu Aisyah ra adalah sosok wanita yang cerdas dan memiliki ilmu yang sangat tinggi dimana begitu banyak ajaran Islam terutama masalah rumah tangga dan urusan wanita yang sumbernya berasal dari sosok ibunda muslimin ini.

4.      Hafsoh binti Umar bin Al-Khotob RA
Beliau ditinggal mati oleh suaminya Khunais bin Hudzafah As-Sahmi, kemudian dinikahi oleh Rasulullah SAW pada tahun ketiga Hijriyah. Beliau menikahinya untuk menghormati bapaknya Umar bin Al-Khotob.
Dengan menikahi hafshah putri Umar, maka hubungan emosional antara Rasulullah SAW dengan Umar menjadi sedemikian akrab, kuat dan tak tergoyahkan. Tidak heran karena Umar memiliki pernanan sangant penting dalam dakwah baik ketika fajar Islam baru mulai merekah maupun saat perluasan Islam ke tiga peradaban besar dunia. Di tangan Umar, Islam berhasil membuktikan hampir semua kabar gembira di masa Rasulullah SAW bahwa Islam akan mengalahkan semua agama di dunia.

5.      Zainab binti Khuzaimah RA
Dari Bani Hilal bin Amir bin Sho-sho’ah dan dikenal sebagai Ummul Masakin karena ia sangat menyayangi mereka. Sebelumnya ia bersuamikan Abdulloh bin Jahsy akan tetapi suaminya syahid di Uhud, kemudian Rasulullah SAW menikahinya pada tahun keempat Hijriyyah. Ia meninggal dua atau tiga bulan setelah pernikahannya dengan Rasulullah SAW .

6.      Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah RA
Sebelumnya menikah dengan Abu salamah, akan tetapi suaminya tersebut meninggal di bulan Jumada Akhir tahun 4 Hijriyah dengan meningalkan dua anak laki-laki dan dua anak perempuan. Ia dinikahi oleh Rasulullah SAW pada bulan Syawwal di tahun yang sama.
Alasan beliau menikahinya adalah untuk menghormati Ummu Salamah dan memelihara anak-anak yatim tersebut.

7.      Zainab binti Jahsyi bin Royab RA
Dari Bani Asad bin Khuzaimah dan merupakan puteri bibi Rasulullah SAW. Sebelumnya ia menikahi dengan Zaid bin Harits kemudian diceraikan oleh suaminya tersebut. Ia dinikahi oleh Rasulullah SAW di bulan Dzul Qo’dah tahun kelima dari Hijrah.
Pernikahan tersebut adalah atas perintah Allah SWT untuk menghapus kebiasaan Jahiliyah dalam hal pengangkatan anak dan juga menghapus segala konskuensi pengangkatan anak tersebut.

8.      Juwairiyah binti Al-Harits RA
Pemimpin Bani Mustholiq dari Khuza’ah. Ia merupakan tawanan perang yang sahamnya dimiliki oleh Tsabit bin Qais bin Syimas, kemudian ditebus oleh Rasulullah SAW dan dinikahi oleh beliau pada bulan Sya’ban tahun ke 6 Hijrah.
Alasan beliau menikahinya adalah untuk menghormatinya dan meraih simpati dari kabilhnya (karena ia adalah anak pemimpin kabilah tersebut) dan membebaskan tawanan perang.

9.      Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan RA
Sebelumnya ia dinikahi oleh Ubaidillah bin Jahsy dan hijrah bersamanya ke Habsyah. Suaminya tersebut murtad dan menjadi nashroni dan meninggal di sana. Ummu Habibbah tetap istiqomah terhadap agamanya. Ketika Rasulullah SAW mengirim Amr bin Umayyah Adh-Dhomari untuk menyampaikan surat kepada raja Najasy pada bulan Muharrom tahun 7 Hijrah. Nabi mengkhitbah Ummu Habibah melalu raja tersebut dan dinikahkan serta dipulangkan kembali ke Madinah bersama Surahbil bin Hasanah.
Sehingga alasan yang paling kuat adalah untuk menghibur beliau dan memberikan sosok pengganti yang lebih baik baginya. Serta penghargaan kepada mereka yang hijrah ke Habasyah karena mereka sebelumnya telah mengalami siksaan dan tekanan yang berat di Mekkah.

10.  Shofiyyah binti Huyay bin Akhtob RA
Dari Bani Israel, ia merupakan tawan perang Khoibar lalu Rasulullah SAW memilihnya dan dimeredekakan serta dinikahinya setelah menaklukan Khoibar tahun 7 Hijriyyah.
Pernakahan tersebut bertujuan untuk menjaga kedudukan beliau sebagai anak dari pemuka kabilah.

11.  Maimunah binti Al- Harits RA
Saudarinya Ummu Al-Fadhl Lubabah binti Al-Harits. Ia adalah seorang janda yang sudah berusia lanjut, dinikahi di bulan Dzul Qa’Sdah tahun 7 Hijrah pada saat melaksanakan Umroh Qadho.


Dari kesemua wanita yang dinikahi Rasulullah SAW, tak satupun dari mereka yang melahirkan anak hasil perkawinan mereka dengan Rasulullah SAW, kecuali Khadijatul Kubra seperti yang disebutkan di atas. Namun Rasulullah SAW pernah memiliki anak laki-laki selain dari Khadijah yaitu dari seorang budak wanita yang bernama Mariah Al-Qibthiyah yang merupakan hadiah dari Muqauqis pembesar Mesir. Anak itu bernama Ibrahim namun meninggal saat masih kecil.

Demikianlah sekelumit data singkat para istri Rasulullah SAW yang mulia, dimana secara khusus Rasulullah SAW diizinkan mengawini mereka dan jumlah mereka lebih dari 4 orang, batas maksimal poligami dalam Islam.

Dari kesemuanya itu, umumnya Rasulullah SAW menikahi mereka karena pertimbangan kemanusiaan dan kelancaran urusan dakwah.

Tata Cara Shalat (bag.1)

“Shalatlah kalian sebagaiman kalian melihatku shalat” (HR.Bukhori)

1.      Berwudhu Secara Sempurna

Dalam hadits Abdullah bin Umar r.a. dari Nabi SAW beliau bersabda :
“Tidak akan diterima (oleh Allah) shalat yang dikerjakan tanpa wudhu dan tidak akan diterima (oleh Allah) shodaqoh dari harta yang haram” (HR.Muslim)

2.      Menghadap Ke arah Kiblat (Ka’bah)

Dalam hadits Abu Hurairah r.a. yang menceritakan tentang seseorang yang tidak menyempurnakan shalatnya, Nabi SAW bersabda :
“Jika engkau hendak mengerjakan shalat, maka berwudhu lah secara sempurna terlebih dahulu, kemudian menghadaplah kea rah kiblat…..” (HR.Bukhori dan Muslim)

3.      Membuat Sutrah

Sutrah adalah sesuatu yang dilatakkan di depan orang yang sedang shalat, sebagai pembatas.

Hal ini didasarkan pada hadits Sabrah bin Ma’bad Al-Juhani, dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda :
“Hendaklah seseorang dari kalian membuat sutrah sewaktu mengerjakan shalat, meskipun dengan anak panah” (HR.Hakim, Thabarani dan Ahmad)

Didasarkan pula pada hadits Abu Dzar r.a, dia berkata :
Rasulullah SAW bersabda :
Jika seseorang dari kalian mengerjakan shalat, dia dianggap telah membuat sutrah meskipun yang diletakkan berupa benda, seperti sandaran pelana. Jika di depannya tidak diletakkan benda tersebut atau yang semisalnya, maka shalatnya menjadi terputus (tidak sempurna) jika ada keledai, wanita atau anjing hitam yang lewat di depannya” (HR.Muslim)

Posisi sutrah hendaknya didekatkan. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Sa’id r.a, dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda :
“Jika seseorang dari kalian mengerjakan shalat, hendaklah dia shalat dengan menghadap ke sutrahnya dan agar mendekat padanya (sutrahnya)” (HR.Abu Dawud)

Antara sutrah dan tempat sujud seseorang hendaklah diberi jarak selebar tempat yang bisa dilalui seekor kambing atau antara dia dan sutrahnya berjarak kira-kira selebar tempat yang cukup untuk melakukan sujud dan hendaknya tidak lebih dari 3 hasta (+ 54 inchi).

Dalam hadits Sahl bin Sa’ad r.a, dia berkata :
“Jarak antara tempat shalat (tempat sujud) Rasulullah SAW dan dinding (arah kiblat) adalah selebar tempat yang bias dilalui seekor kambing” (HR.Bukhori dan Muslim)

      Jika ada seseorang hendak lewat di depan orang yang sedang shalat, hendaklah orang yang sedang shalat itu mencegah dan menghalangi (orang yang ingin lewat itu). Jika orang tersebut tetap memaksa hendak lewat, hendaklah dia (orang yang sedang shalat) itu mendorongnya dengan kuat.

Hal ini didasarkan pada hadits Abu Sa’id Al-Khudri r.a, dia berkata :
“Saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda :
Jika seseorang dari kalian sedang shalat dengan meletakkan sutrah di depannya, lalu ada seseorang hendak lewat di depannya, hendaklah dia mencegahnya. Jika orang tersebut tetap memaksa untuk lewat, maka bunuhlah, sebab dia itu tidak lain adalh setan” (HR.Bukhori dan Muslim)

Dalam riwayat Muslim disebutkan :
“….sebab bersamanya ada (setan) yang menyertainya”

Siapapun orangnya, tidak diperbolehkan lewat di depan orang yang sedang shalat.
Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Juhaim r.a, Rasulullah SAW bersabda :
“Sekiranya orang yang lewat di depan orang yang sedang shalat mengetahui betapa besar dosa yang harus ditanggungnya, niscaya berdiri selama 40 masa lebih baik baginya daripada lewat di depan orang yang sedang shalat” (HR.Bukhori dan Muslim)
Abu Nadhr (seorang perawi hadits ini) berkata : “Aku tidak tahu apakah maksudnya 40 hari, 40 bulan atau 40 tahun”

Sutrah Imam merupakan sutrah bagi makmum nya juga.
Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abdullah Ibnu Abbas r.a yang menyebutkan bahwasanya dia pernah dating (terlambat) dengan mengendarai keledai betinanya, disebabkan pada hari itu dia habis mengalami ihtilam (mimpi basah). Sementara pada saat itu Rasulullah SAW sudah berdiri di Mina dalam haji Wada’ tengah mengimami shalat orang banyak dengan tidak menghadap ke dinding. Ibnu ‘Abbas pun mengendarai keledainya dan lewat di depan sebagian shaf pertama, lalu turun, lalu bergabung dalam shaf bersama orang banyak di belakang Rasulullah SAW, dan tidak ada seorang pun pada saat itu yang menghalangi Ibnu ‘Abbas untuk lewat. Hal ini menunjukkan bahwa sutrah yang dibuat oleh imam adalah sutrah makmum juga.

4.      Bertakbiratul Ihram

Nabi SAW pernah bersabda :
“Jika engkau telah berdiri untuk mengerjakan shalat, maka bertakbirlah”
(HR.Bukhori dan Muslim)

Nabi SAW pernah bersabda kepada Imran bin Hushain r.a :
“Shalatlah engkau sambil berdiri, jika tidak mampu, shalatlah sambil duduk, dan jika tak mampu, maka shalatlah sambil berbaring miring” (HR.Bukhori)

Dalam hadits ‘Umar bin Khattab r.a, dari Nabi SAW, beliau bersabda :
“Sesungguhnya semua amal itu tergantung pada niatnya” (HR.Bukhori dan Muslim)

Bertakbiratul ihram ada beberapa cara :
Ø  Bahwa Nabi SAW mengangkat kedua tangannya terlebih dahulu, kemudian bertakbir.

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar r.a, dia berkata :
“Adalah Rasulullah SAW bila berdiri hendak shalat, beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua bahunya, kemudian bertakbir” (HR. Muslim)

Dalam hadits Abu Humaid As-Sa’idi r.a disebutkan :
“Adalah Rasulullah SAW jika berdiri hendak shalat, beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua bahunya, baru kemudian bertakbir” (HR.Bukhori dan Abu Dawud)

Ø  Bahwa Nabi SAW bertakbir terlebih dahulu, kemudian mengangkat kedua tangannya.

Diriwayatkan dari Abu Qilabah :
Bahwa dia pernah melihat Malik bin Huwairits ketika mengerjakan shalat, dia (Malik) bertakbir terlebih dahulu, baru kemudian mengangkat kedua tangannya… Malik mengatakan bahwa Rasulullah SAW melakukan yang demikian. (HR.Bukhori dan Muslim)

Ø  Bahwa Nabi SAW mengangkat kedua tangannya bersamaan dengan takbir.

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar r.a, dia berkata :
“Aku pernah melihat Nabi SAW memulai takbir dalam shalatnya. Beliau mengangkat kedua tangannya bersamaan dengan takbir dan kedua tangannya itu beliau sejajarkan dengan kedua bahunya” (HR.Bukhori dan Muslim)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a bahwa Nabi SAW pernah bersabda :
“Hendaklah orang-orang berhenti dari menengadahkan pandangan mereka ke atas ketika shalat, atau penglihatan mereka benar-benar akan dihilangkan” (HR.Muslim)

5.      Meletakkan Tangan Di Dada

Yakni telapak tangan kanan diletakkan di atas punggung telapak, pergelangan dan lengan tangan kiri.

Dalam hadits Wa’il bin Hujr, dia berkata :
“Aku pernah mengerjakan shalat bersama Nabi SAW. Beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya di dada” (HR. Ibnu Khuzaimah)

Dalam lafazh lain disebutkan :
“….kemudian beliau meletakkan tangan kanannya di atas punggung telapak, pergelangan dan lengan tangan kirinya” (HR.Abu Dawud dan Nasa’i)

6.      Membaca Doa Iftitah

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, dia berkata :
“Adalah Rasulullah SAW bila selesai bertakbiratul ihram dalam shalat, beliau diam sebentar sebelum membaca (Al Fatihah), lalu aku bertanya : Ya Rasulullah, demi Bapakku, engkau dan Ibuku, bolehkah aku tahu apa yang engkau baca saat engkau diam diantara takbiratul ihram dan membaca (Al Fatihah)?. Beliau menjawab : “Aku membaca Allohumma baa’id bainii wa baina khothooyaaya kamaa baa’atta bainal masyriqi wal maghrib. Allohumma naqqinii min khothooyaaya kamaa yunaqqots tsaubul abyadu minad danas. Allohummaghsilnii min khothooyaaya bits tsalji wal maa’i wal barod”
 (HR.Bukhori dan Muslim)

Diriwayatkan dari Anas r.a,
bahwa pernah ada seorang laki-laki yang dating (terlambat) lalu masuk ke shaf, sementara nafasnya terdengar ngos-ngosan. Selanjutnya dia lalu membaca :
“Alhamdu lillahi hamdan katsiron thoyyiban mubaarokan fiih”
Setelah selesai shalat Rasulullah SAW bersabda :
“…sungguh tadi aku melihat 12 Malaikat saling berlomba untuk bisa mencatatnya” (HR.Muslim)
Diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a, dia berkata :
“Ketika kami tengah mengerjakan shalat bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba ada seseorang yang (dating lalu) membaca doa iftitah : “Allohu akbaru kabiiroo, wal hamdu lillahi katsiiroo, wa subhanalloohi bukrotawwa ashilaa.
Lalu Rasulullah SAW bersabda :
“…aku merasa senang dengan doa ini. Pintu-pintu langit juga terbuka untuknya” (HR.Muslim)

Dan masih ada doa-doa iftitah yang lainnya, yang berasal dari Nabi SAW.


7.      Membaca Ta’awwudz dan Basmallah

Bacaan Ta’awwudz adalah :
·      A’uudzu billaahi minasy syaithoonir rojiim
“Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk”

·      A’uudzu billahis samii’il ‘aliimi minasy syaithoonir rojiim, min hamzihii, wa nafkhihii, wa naftsih
“Aku berlindung kepada Allah, Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan yang terkutuk, yakni dari kesurupannya, dari kesombongannya dan dari perasaan buruk yang berasal dari nya” (HR.Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi)


Bacaan Basmallah adalah :
Bismillahir rohmaanir rohiim
“Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”

Didasarkan pada hadits Anas r.a, dia berkata :
“Aku pernah shalat bermakmum kepada Rasulullah SAW, Abu Bakar, ‘Umar dan Utsman. Mereka tidak menjahrkan bacaan ‘Bismillaahir rohmaanir rohiim” (HR.Ahmad, Nasa’I dan Ibnu Khuzaimah)

Dan bacaan Basmallah merupakan ayat yang tersendiri, bukan bagian dari Surat Al Fatihah.


8.      Membaca Al-Fatihah

Hal ini didasarkan pada hadits Ubadah bin Shamit r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda :
“Tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca Al Fatihah” (HR.Bukhari dan Muslim)
Tetapi kewajiban membaca Al Fatihah menjadi gugur bagi makmum masbuq yang mendapati Imam sudah melakukan ruku’.
Dan membaca Al Fatihah juga gugur bagi makmum yang lupa atau tidak hafal.

Hal ini didasarkan pada hadits Abu Bakrah r.a yang menyebutkan bahwasanya dia pernah dating terlambat dalam mengikuti shalat berjama’ah yang ketika itu dia mendapati Nabi SAW tengah ruku’, sehingga dia (Abu Bakrah) pun melakukan ruku’ sebelum sampai di shaf. Setelah selesai shalat, dia (Abu Bakrah) menceritakan keterlambatannya itu kepada Nabi SAW. Lalu beliau bersabda :
“Semoga Allah menambahkan kemauan kepadamu (dalam mengerjakan kebajikan). Akan tetapi, janganlah kamu ulangi lagi (tindakanmu yang tergesa-gesa, lalu ruku’ sebelum sampai di shaf itu)” (HR.Bukhari)


9.      Membaca Aamiin Setelah Selesai Membaca Al Fatihah

Aamiin artinya Ya Allah, kabulkanlah doa kami.
Hal ini didasarkan pada hadits Abu Hurairah r.a, dia berkata :
“Adalah Rasulullah SAW bila selesai membaca Ummul Qur’an (Al Fatihah), beliau mengucapkan ‘aamiin’ seraya mengeraskan suaranya” (HR.Daraquthni dan Hakim)

Bila Imam mengucapkan ‘aamiin’, maka ucapkanlah ‘aamiin’, sebab barang siapa yang ucapan ‘aamiin’nya bersamaan dengan ucapan ‘aamiin’nya para Malaikat, maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni” (HR.Bukhari dan Muslim)

“Bila Imam telah mengucapkan ‘ghoiril maghduubi alaihim waladhdhooolliin’, maka ucapkanlah ‘aamiin’, sebab barang siapa yang ucapannya ‘aamiin’nya bersamaan dengan ucapan ‘aamiin’nya para Malaikat, maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni” (HR.Bukhari dan Muslim)

Bagi yang tidak bisa atau belum bisa membaca Al Fatihah, maka dia boleh membaca suatu ayat Al Qur’an yang dia kuasai. Bila tidak bisa atau belum ada ayat di Al Qur’an yang dihafalnya, maka dia boleh membaca :
“Subhanallooh, walhamdu lillaah, wa laa ilaaha illallooh, walloohu akbar, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘azhiim”

Hal ini didasarkan pada hadits ‘Abdullah bin Abi Aufa r.a, dia berkata :
Pernah ada seseorang dating kepada Nabi SAW, lalu berkata : “Sesungguhnya aku belum hafal satu ayat pun dari Al Qur’an. Karenanya, ajari aku suatu bacaan yang bisa kubaca (dalam shalatku).” Beliau bersabda : “Ucapakanlah : ‘Subhaanallooh, walhamdu lillaah, wa laa ilaaha illallooh, walloohu akbar, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaahil aliyyil azhiim’” (HR.Ahmad, Abu Dawud, Nasa’I, Ibnu Hibban, Daraquthni dan Hakim)

Sabtu, 02 April 2011

10 Sahabat Rasulullah yang Dijamin Masuk Surga

     Sahabat Rasulullah SAW yang dijamin masuk surga berdasarkan hadits berikut: Tercatat dalam “ARRIYADH ANNADHIRAH FI MANAQIBIL ASYARAH“ dari sahabat Abu Dzar ra, bahwa Rasulullah masuk ke rumah Aisyah ra dan bersabda: “Wahai Aisyah, inginkah engkau mendengar kabar gembira?” Aisyah menjawab : “Tentu, ya Rasulullah.” Lalu Nabi SAW bersabda, ”Ada sepuluh orang yang mendapat kabar gembira masuk surga, yaitu : Ayahmu masuk surga dan kawannya adalah Ibrahim; Umar masuk surga dan kawannya Nuh; Utsman masuk surga dan kawannya adalah aku; Ali masuk surga dan kawannya adalah Yahya bin Zakariya; Thalhah masuk surga dan kawannya adalah Daud; Azzubair masuk surga dan kawannya adalah Ismail; Sa’ad masuk surga dan kawannya adalah Sulaiman; Said bin Zaid masuk surga dan kawannya adalah Musa bin Imran; Abdurrahman bin Auf masuk surga dan kawannya adalah Isa bin Maryam; Abu Ubaidah ibnul Jarrah masuk surga dan kawannya adalah Idris Alaihissalam.”
Kisah singkat 10 Sahabat

1. Abu Bakar bin Abi Qohafah (Assiddiq),
    
    adalah seorang Quraisy dari kabilah yang sama dengan Rasulullah, hanya berbeda keluarga. Bila Abu Bakar berasal dari keluarga Tamimi, maka Rasulullah berasal dari keluarga Hasyimi. Keutamaannya, Abu Bakar adalah seorang pedagang yang selalu menjaga kehormatan diri. Ia seorang yang kaya, pengaruhnya besar serta memiliki akhlaq yang mulia. Sebelum datangnya Islam, beliau adalah sahabat Rasulullah yang memiliki karakter yang mirip dengan Rasulullah. Belum pernah ada orang yang menyaksikan Abu Bakar minum arak atau pun menyembah berhala. Dia tidak pernah berdusta. Begitu banyak kemiripan antara beliau dengan Rasulullah sehingga tak heran kemudian beliau menjadi khalifah pertama setelah Rasulullah wafat. Rasulullah selalu mengutamakan Abu Bakar ketimbang para sahabatnya yang lain sehingga tampak menojol di tengah tengah orang lain.
“Jika ditimbang keimanan Abu Bakar dengan keimanan seluruh ummat niscaya akan lebih berat keimanan Abu Bakar. ”(HR. Al Baihaqi)
Al Qur’an pun banyak mengisyaratkan sikap dan tindakannya seperti yang dikatakan dalam firmanNya, QS Al Lail 5-7, 17-21, Fushilat 30, At Taubah 40. Dalam masa yang singkat sebagai Khalifah, Abu Bakar telah banyak memperbarui kehidupan kaum muslimin, memerangi nabi palsu, dan kaum muslimin yang tidak mau membayar zakat. Pada masa pemerintahannya pulalah penulisan AlQur’an dalam lembaran-lembaran dimulai.


2. Umar Ibnul Khattab,

    ia berasal dari kabilah yang sama dengan Rasulullah SAW dan masih satu kakek yakni Ka’ab bin Luai. Umar masuk Islam setelah bertemu dengan adiknya Fatimah daan suami adiknya Said bin Zaid pada tahun keenam kenabian dan sebelum Umar telah ada 39 orang lelaki dan 26 wanita yang masuk Islam. Di kaumnya Umar dikenal sebagai seorang yang pandai berdiskusi, berdialog, memecahkan permasalahan serta bertempramen kasar. Setelah Umar masuk Islam, da’wah kemudian dilakukan secara terang-terangan, begitupun di saat hijrah, Umar adalah segelintir orang yang berhijrah dengan terang-terangan. Ia sengaja berangkat pada siang hari dan melewati gerombolan Quraisy. Ketika melewati mereka, Umar berkata, ”Aku akan meninggalkan Mekah dan menuju Madinah. Siapa yang ingin menjadikan ibunya kehilangan putranya atau ingin anaknya menjadi yatim, silakan menghadang aku di belakang lembah ini!” Mendengar perkataan Umar tak seorangpun yang berani membuntuti apalagi mencegah Umar. Banyak pendapat Umar yang dibenarkan oleh Allah dengan menurunkan firmanNya seperti saat peristiwa kematian Abdullah bin Ubay (QS 9:84), ataupun saat penentuan perlakuan terhadap tawanan saat perang Badar, pendapat Umar dibenarkan Allah dengan turunnya ayat 67 surat Al Anfal.
    Sebagai khalifah, Umar adalah seorang yang sangat memperhatikan kesejahteraan ummatnya, sampai setiap malam ia berkeliling khawatir masih ada yang belum terpenuhi kebutuhannya, serta kekuasaan Islam pun semakin meluas keluar jazirah Arab.


3. Utsman bin Affan,

    sebuah Hadits yang menggambarkan pribadi Utsman : “Orang yang paling kasih sayang diantara ummatku adalah Abu Bakar, dan paling teguh dalam menjaga ajaran Allah adalah Umar, dan yang paling bersifat pemalu adalah Utsman. (HR Ahmad, Ibnu Majah, Al Hakim, At Tirmidzi) Utsman adalah seorang yang sangat dermawan, dalam sebuah persiapan pasukan pernah Utsman yang membiayainya seorang diri. Setelah kaum muslimin hijrah, saat kesulitan air, Utsmanlah yang membeli sumur dari seorang Yahudi untuk kepentingan kaum muslimin. Pada masa kepemimpinannya Utsman merintis penulisan Al Qur’an dalam bentuk mushaf, dari lembaran-lembaran yang mulai ditulis pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar.


4. Ali bin Abi Thalib,

    pemuda pertama yang masuk Islam, ia yang menggantikan posisi Rasulullah di tempat tidurnya saat beliau hijrah, Ali yang dinikahkan oleh Rasulullah dengan putri kesayangannya Fatimah, Ali yang sangat sederhana kehidupannya.


5. Thalhah bin Ubaidillah

    yang pada Uhud terkena lebih dari tujuh puluh tikaman atau panah serta jari tangannya putus. Namun Thalhah yang berperawakan kekar serta sangat kuat inilah yang melindungi Rasulullah disaat saat genting, beliau memapah Rasulullah yang tubuhnya telah berdarah menaiki bukit Uhud yang berada di ujung medan pertempuran saat kaum musyrikin pergi meninggalkan medan peperangan karena mengira Rasulullah telah wafat. Saat itu Thalhah berkata kepada Rasulullah, ”Aku tebus engkau ya Rasulullah dengan ayah dan ibuku.” Nabi tersenyum seraya berkata, ”Engkau adalah Thalhah kebajikan.” Sejak itu Beliau mendapat julukan Burung Elang hari Uhud. Rasulullah pernah berkata kepada para sahabatnya, ”Orang ini termasuk yang gugur dan barang siapa yang senang melihat seorang yang syahid berjalan di muka bumi maka lihatlah Thalhah.”


6. Azzubair bin Awwam,

    sahabat yang berikutnya, adalah sahabat karib dari Thalhah. Beliau muslim pada usia lima belas tahun dan hjrah pada usia delapan belas tahun, dengan siksaan yang ia terima dari pamannya sendiri. Kepahlawanan Azzubair ibnul Awwam pertama terlihat dalam Badar saat ia berhadapan dengan Ubaidah bin Said Ibnul Ash. Azzubair ibnul Awwam berhasil menombak kedua matanya sehingga akhirnya ia tersungkur tak bergerak lagi, hal ini membuat pasukan Quraisy ketakutan.
    Rasulullah sangat mencintai Azzubair ibnul Awwam beliau pernah bersabda, ”Setiap nabi memiliki pengikut pendamping yang setia (hawari), dan hawariku adalah Azzubair ibnul Awwam.” Azzubair ibnul Awwam adalah suami Asma binti Abu Bakar yang mengantarkan makanan pada Rasul saat beliau hijrah bersama ayahnya. Pada masa pemerintahan Umar, saat panglima perang menghadapi tentara Romawi di Mesir Amr bin Ash meminta bala bantuan pada Amirul Mu’minin, Umar mengirimkan empat ribu prajurit yang dipimpin oleh empat orang komandan, dan ia menulis surat yang isinya, ”Aku mengirim empat ribu prajurit bala bantuan yang dipimpin empat orang sahabat terkemuka dan masing-masing bernilai seribu orang. Tahukah anda siapa empat orang komandan itu? Mereka adalah Ubadah ibnu Assamit, Almiqdaad ibnul Aswad, Maslamah bin Mukhalid, dan Azzubair bin Awwam.” Demikianlah dengan izin Allah, pasukan kaum muslimin berhasil meraih kemenangan.


7. Abdurrahman bin Auf,

    yang disebutkan berikutnya, adalah seorang pedagang yang sukses, namun saat berhijrah ia meninggalkan semua harta yang telah ia usahakan sekian lama. Namun saat telah di Madinahpun beliau kembali menjadi seorang yang kaya raya, dan saat beliau meninggal, wasiat beliau adalah agar setiap peserta perang Badar yang masih hidup mendapat empat ratus dinar, sedang yang masih hidup saat itu sekitar seratus orang, termasuk Ali dan Utsman. Beliaupun berwasiat agar sebagian hartanya diberikan kepada ummahatul muslimin, sehingga Aisyah berdoa: “Semoga Allah memberi minum kepadanya air dari mata air Salsabil di surga.”


8. Saad bin Abi Waqqash,

    orang pertama yang terkena panah fisabilillah, seorang yang keislamannya sangat dikecam oleh ibunya, namun tetap tabah, dan kukuh pada keislamannya.


9. Said bin Zaid,

    adik ipar Umar, adalah orang yang dididik oleh seorang ayah yang beroleh bihayah Islam tanpa melalui kitab atau nabi mereka seperti halnya Salman Al Farisi, dan Abu Dzar Al Ghifari. Banyak orang yang lemah berkumpul di rumah mereka untuk memperoleh ketenteraman dan keamanan, serta penghilang rasa lapar, karena Said adalah seorang sahabat yang dermawan dan murah tangan.


10. Abu Ubaidah Ibnul Jarrah,

    yang akhirnya terpaksa membunuh ayahnya saat Badar, sehingga Allah menurunkan QS Al Mujadilah : 22. Begitupun dalam perang Uhud, Abu Ubaidahlah yang mencabut besi tajam yang menempel pada kedua rahang Rasulullah, dan dengan begitu beliau rela kehilangan giginya. Abu Ubaidah mendapat gelar dari Rasulullah sebagai pemegang amanat ummat, seperti dalam sabda beliau : “Tiap-tiap ummat ada orang pemegang amanat, dan pemegang amanat ummat ini adalah Abu Ubaidah Ibnul Jarrah.”